PRODUKSI SIARAN RADIOJENIS-JENIS SIARAN RADIO

  1. A. PENDAHULUAN

Siaran radio menurut  Undang-undang Penyiaran no 32/2002 adalah sebuah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran, yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.

Sifat utama media radio adalah auditif, yaitu dikonsumsi telinga atau indera pendengaran. Radio disebut juga sebagai kekuatan kelima di negara karena radio memiliki kekuatan langsung dibawah suratkabar.

Radio juga merupakan jenis media komunikasi massa sebagai penyalur komunikasi yang sampai saat ini masih mendapat perhatian dari masyarakat. Beberapa kelebihan radio lah yang menjadi alasan mengapa sampai saat ini masih banyak masyarakat yang mencari informasi maupun hiburan lewat radio. Siaran yang berupa penyampaian pesan dalam bentuk informasi maupun hiburan, saat ini telah banyak disebarluaskan melalui berbagai stasiun radio.

Siaran radio di Indonesia terdiri dari beberapa jenis yang ditinjau dari  segi frekuensi, gelombang dan penyelenggara. Frekuensi yang terbagi ke dalam FM dan AM, gelombang terdiri dari long, short, dan medium wave, sedangkan dari segi penyelenggara, terdiri dari negara, swasta, komunitas, dan asing. Untuk lebih jelasnya kami akan jelaskan secara rinci dalam makalah ini.

  1. B. PEMBAHASAN

–          Jenis-jenis siaran radio

Jenis-jenis siaran radio dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu ditinjau dari segi frekuensi, gelombang dan dari penyelenggara.

  1. Berdasarkan frekuensi

Frekuensi adalah ukuran jumlah putaran ulang per peristiwa dalam selang waktu yang diberikan. Untuk memperhitungkan frekuensi, seseorang menetapkan jarak waktu, menghitung jumlah kejadian peristiwa, dan membagi hitungan ini dengan panjang jarak waktu. Hasil perhitungan ini dinyatakan dalam satuan hertz (Hz) yaitu nama pakar fisika Jerman Heinrich Rudolf Hertz yang menemukan fenomena ini pertama kali. Frekuensi sebesar 1 Hz menyatakan peristiwa yang terjadi satu kali per detik.

–          ­Amplitudo Modulasi (AM)

Saluran AM merupakan saluran yang pertama kali digunakan dalam teknologi penyiaran. Menurut ketentuan internasional, saluran AM berada pada blok frekuensi 300-3000 KHz. Pada sistem AM, sinyal informasi mengubah-ubah amplitude gelombang pembawa, namun frekuensinya tetap. Dalam memancarkan sinyal, saluran AM memanfaatkan gelmbang elektromagnetik bumi atau yang disebut dengan ground waves dan juga gelombang udara atau sky waves. Kedua jenis gelombang ini dapat membawa sinyal ke wilayah yang sangat jauh. Itu sebabnya mengapa radio Am mampu menyampaikan siarannya hingga ke tempat yang sangat jauh.

–          Frekuensi Modulasi (FM)

Saluran FM ditetapkan secara internasional berada pada blok frekuensi VHF (very high frequency), yaitu 30-300 MHz. Di Indonesia, rentang pita frekuensi yang dialokasikan untuk siaran FM berada diantara 87,5 – 108 MHz. Pada wilayah frekuensi ini secara relatif, bebas dari gangguan baik atmosfir maupun interferensi yang tidak diharapkan. Jangkauan dari sistem modulasi ini tidak sejauh, jika dibandingkan pada sistem modulasi AM dimana panjang gelombangnya lebih panjang.

Luas wilayah yang dapat dicakup siaran FM merupakan kombinasi dari daya watt dan tinggi tiang pemancar. Semakin tinggi daya watt stasiun FM, semakin tinggi tiang pemancar, maka semakin kuat sinyal yang dipancarkan.

Keunggulan saluran FM dibandingkan AM adalah pada kualitas suara yang sangat bagus. Saluran ini nyaris bebas dari gangguan udara.

  1. b. Berdasarkan Gelombang
  1. Gelombang panjang ( long wave )

Gelombang jenis ini memiliki signal yang panjang sehingga mampu menjangkau range area yang sangat luas. Kerugian dari gelombang ini adalah :

♦ Memerlukan daya listrik yang sangat besar sehingga mahal dalam

operasionalnya

♦ Karena jenis gelombangnya panjang dan lebar menyebabkan rentan terhadap

gangguan (noise)

  1. Gelombang pendek (short wave)

Gelombang yang menggunakan udara sebagai mediator. Gelombang ini mempunyai ruang frekuensi yang sangat lebar yaitu dari 1600 KHz sampai 30.000 KHz.

Jenis gelombang ini adalah SW (short wave). Keuntungan dari gelombang ini adalah :

♦ Mampu menjangkau wilayah (coverage area) yang luas

♦ Banyak digunakan oleh pemancar internasional atau antar benua

Sedangkan kerugiannya sebagai beikut :

♦ Banyak noise-nya khususnya dari matahari, cuaca, udara, halilintar dsb

♦ Suara manusia dapat didengar dengan baik tetapi pengguanaan sound effect

kehilangan mutu kulitasnya ( kabur )

  1. Gelombang medium (medium wave)

Gelombang yang menggunakan permukaan bumi sebagai mediator. Gelombang ini berada pada jalur 540 sampai 1600 KHz. Secara umum kebanyakan gelombang yang dipakai oleh stasiun radio. Jenis yang dipakai oleh gelombang ini adalam AM (amplitude modulation) dan FM (frequency modulation). Keuntungan dari penggunaan gelombang ini adalah :

♦ Permukaan bumi kurang dipengaruhi cuaca sehingga tidak terjadi noise

♦ Mutu penyiaran lebih bagus dalam kualitas suara dan sound effect.

Sedangkan kerugiannya :

♦ Tanah menyerap gelombang lebih cepat daripada udara yang menyebabkan

jarak jangkauan siaran lebih sempit sehingga memerlukan booster.

♦ Tanah di Indonesia mengandung besi yang cepat menyerap gelombang sehingga             merupakan penghantar yang buruk.

  1. Berdasarkan Penyelenggara:

–          ­Radio milik Negara

Sebelum menjadi Lembaga Penyiaran Publik sejak tahun 2000, Radio Republik Indonesia (RRI) berstatus sebagai Perusahaan Jawatan (Perjan) yaitu badan usaha milik negara (BUMN) yang tidak mencari untung. Dalam status Perusahaan Jawatan RRI telah menjalankan prinsip-prinsip radio publik yang independen. Perusahaan Jawatan dapat dikatakan sebagai status transisi dari lembaga Penyiaran Pemerintah menuju Lembaga Penyiaran Publik pada masa reformasi.

Sejak tahnu 2005, RRI resmi menjadi Lembaga Penyiaran Publik, repositioning dari Institusi Pemerintah ini juga ditandai dengan adanya komitmen menyeluruh karyawan RRI diseluruh Indonesia, penulis turut aktif berpartisipasi dalam melakukan diskusi-diskusi internal maupun eksternal, termasuk mengikuti berbagai pelatihan tentang Public Service Broadcasting di dalam dan luar negeri.

–          ­Radio publik

Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, Radio terdiri dari Dewan Pengawas dan Dewan Direksi. Dewan Pengawas yang berjumlah 5 orang terdiri dari unsur publik, pemerintah dan perusahaan. Dewan Pengawas yang merupakan wujud representasi dan supervisi publik memilih Dewan Direksi yang berjumlah 5 orang yang bertugas melaksanakan kebijakan penyiaran dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan penyiaran. Status sebagai Lembaga Penyiaran Publik juga ditegaskan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 11 dan 12 tahun 2005 yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Undang Undang Nomor 32/2002.

Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI dikembangkan/dibangun mengacu pada UU No.32/2002 dan PP.No. 12/2005 sebagai lembaga yang independen, netral dan tidak komersial dan berfungsi melayani kepentingan masyarakat, sebagai corong publik, bukan corong pemerintah. Tugas LPP RRI, menurut PP no 12/2005, adalah memberi layanan informasi, pendidikan, hiburan sehat, kontrol dan perekat social dan pelestari budaya bangsa melalui siaran yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat di wilayah NKRI. Ke luar negeri, siaran RRI bertujuan membangun citra positip bangsa di mata dunia internasional. Sebagai radio publik RRI memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada publik untuk turut merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi operasional siaran RRI melalui dialog interaktif dan pertemuan-pertemuan yang diadakan Dewan dan Direksi serta kepala-kepala stasiun dengan kelompok-kekompok pemerhati RRI dan “citizen journalism” (jurnalisme warga). Keterlibatan public dalam siaran-siaran RRI dicerminkan dengan tagline” Saatnya Anda dengar dan bicara melalui RRI” (Now time to listen to and speak through RRI). Sebagai media massa yang independen, RRI dalam menyajikan informasi, berita terutama, menganut prinsip cover both sides untuk ungkapan kebenaran.

–          Radio swasta/komersial

Radio siaran swasta FM dan AM yang dapat digunakan untuk penyampaian informasi  ini dapat dikemas dalam bentuk acara khusus maupun dengan memasukkan pesan ke dalam acara tertentu,  akhirnya memilih radio sebagai sarana untuk mendapatkan finansial, mereka selanjutnya mengemas pelaksanaan siaran dengan konsep ekonomi yang diharapkan akan memperoleh kemanfaatan finansial setelah melakukan kegiatan penyiaran. penyelenggara radio swasta tentunya lebih memfokuskan pada keuntungan, sehingga sesuatu yang wajar kalau mereka tentunya akan menentukan kebijakan pola, strategi, bahkan tempat dalam melaksanakan siaran berpedoman faktor-faktor yang menguntungkan.

Pengelolaan radio swasta berdasarkan hasil rating oleh surveyor dan juga selera/kreativitas pengelola. Kepentingan radio swasta diarahkan kepada segmen pasar yang disasar. Dalam siarannya radio swasta mengikuti keinginan dan selera pasar. Bahasa penyiar dalam radio swasta cenderung mengikuti gaya bicara orang kota (Jakarta).

–          Radio komunitas

Radio komunitas adalah stasiun siaran radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan, diinisiatifkan dan didirikan oleh sebuah komunitas. Pelaksana penyiaran (seperti radio) komunitas disebut sebagai lembaga penyiaran komunitas.

Radio komunitas juga sering disebut sebagai radio sosial, radio pendidikan, atau radio alternatif. Intinya, radio komunitas adalah “dari, oleh, untuk dan tentang komunitas”.

Ada beberapa perbedaan antara radio komunitas dengan radio swasta yaitu, pengelolaan radio Komunitas berdasarkan hasil diskusi dan kesepakatan bersama warga sedangkan pengelolaan radio swasta berdasarkan hasil rating oleh surveyor dan juga selera/kreativitas pengelola. Radio komunitas mengutamakan kepentingan dan kebutuhan warga di wilayah tempat radio tersebut sedangkan radio swasta diarahkan kepada segmen pasar yang disasar. Dalam siarannya radio komunitas menyajikan tema-tema yang dibutuhkan warga setempat sedangkan radio swasta mengikuti keinginan dan selera pasar. Bahasa penyiar dalam radio komunitas mengikuti dialek lokal dan kebiasaan berbicara setempat sedangkan radio swasta cenderung mengikuti gaya bicara orang kota (Jakarta).

Sejak kemunculan teknologi radio, radio komunitas sebenarnya sudah ada. Hanya karena pemahaman konsep tentang komunitas yang belum di ketahui masyarakat maka seolah-olah radio komunitas di Indonesia adalah sesuatu yang baru. Berawal dari hobby dan kebutuhan media untuk melakukan proses sosialisasi, baik yang diawali oleh perorangan ataupun lembaga masyarakat, munculah radio sebagai media yang mempertemukan dan mempersatukan keinginan-keinginan yang tumbuh di masyarakat. Bagi yang akhirnya memilih radio sebagai sarana untuk mendapatkan finansial, mereka selanjutnya mengemas pelaksanaan siaran dengan konsep ekonomi yang diharapkan akan memperoleh kemanfaatan finansial setelah melakukan kegiatan penyiaran. Sampai sekarang mereka kita kenal sebagai radio swasta, baik yang tergabung dalam wadah PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia) maupun ARSI (Asosiasi Radio Swasta Indonesia).

Namun demikian, karena konsep ekonomis yang dilaksanakan sehingga orientasi Konsekuensi logis dari hal tersebut berimplikasi pada tidak terlayaninya kebutuhan masyarakat akan informasi yang mereka butuhkan dan inginkan oleh media yang sudah ada tersebut. Banyak Sekali masyarakat di wilayah nusantara ini yang belum terlayani siaran radio.

Radio Komunitas sebetulnya muncul untuk mengisi keterbatasan dari lembaga penyiaran lain yang belum mampu memberikan dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi yang mereka butuhkan.

Secara nyata Radio Komunitas di Indonesia mulai menampakkan keberadaannya kuranglebih tahun 1993 atau 11 tahun sebelum disahkannya Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran yang secara eksplisit menyebutkan Lembaga Penyiaran Komunitas sebagai bagian dari sistem Penyiaran Indonesia.

Radio komunitas sampai saat ini masih menghadapi kesulitan di regulasi. Setelah mendapat pengakuan dari UU Penyiaran tahun 2002, regulasi yang berada di bawahnya seperti Peraturan Pemerintah yang mengatur lebih detail soal perizinan atau frekuensi masih belum mendukung perkembangan radio komunitas.

Adapun keberadaan radio komunitas semakin marak dewasa ini di Indonesia setelah di deklarasikannya Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI), pada tahun 2002 atau 3 bulan sebelum UU Penyiaran di sahkan. Sejak itu bermunculan radio komunitas di beberapa daerah. Selanjutnya mereka membentuk jaringan-jaringan wilayah seperti, Jawa Barat, Yogyakarta, Lombok – Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jabotabek, Banten, Lampung, Bali, Padang, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Irian Jaya (Sorong). Agenda utama JRKI adalah advokasi terhadap penyiaran komunitas di Indonesia menuju demokratisasi penyiaran

Database sementara tentang jumlah radio komunitas yang Jaringan wilayahnya tergabung di JRKI berjumlah 276 radio komunitas ( 16 Provinsi) itu belum yang tergabung di Jaringan lain kemungkinan akan sangat banyak. Kalau melihat dari proses diseminasi RPP beberapa waktu lalu, sampai bulan Juni 2004 total partisipan yang terlibat aktif sebanyak 500 radio komunitas tersebar di seluruh Indonesia. Sementara itu yang belum terlibat aktif bahkan belum teridentifikasi sebagai radio komunitas dalam jaringan yang sudah ada seakrang ini kurang lebih 350 radio, sehingga diperkirakan di seluruh Indonesia terdapat kurang lebih 1000 radio komunitas, dengan hampir 60 % atau sebanyak 600 radio komunitas berada di pulau Jawa. Jumlah ini masih sedikit di banding jumlah kecamatan yang ada di Indonesia kalau asumsinya perkecamatan 1 radio komunitas.

–          Radio asing

Radio luar negeri yang bisa didegar di Indonesia, biasanya menggunakan jaringan satelit. Biasanya pemancar radio ini menggunakan daya listrik yang jauh lebih tinggi dari stasiun radio lainnya.

–    Jenis Program Radio

  1. Berita radio
  2. Iklan radio: ad-lib, spot, dan program khusus
  3. Jingle radio
  4. Talkshow interactive
  5. Infotainment radio: info-entertainment, infotainment, information dan entertainment, dan sajian informasi.
  1. KESIMPULAN

Siaran radio menurut  Undang-undang Penyiaran no 32/2002 adalah sebuah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran, yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.

Siaran radio di Indonesia terdiri dari beberapa jenis yang ditinjau dari  segi frekuensi, gelombang dan penyelenggara. Frekuensi yang terbagi ke dalam FM dan AM, gelombang terdiri dari long, short, dan medium wave, sedangkan dari segi penyelenggara, terdiri dari negara, swasta, komunitas, dan asing.

Berdasarkan frekuensi, radio terbagi ke dua bagian. Yaitu Amplitudo Modulasi (AM), dimana saluran AM merupakan saluran yang pertama kali digunakan dalam teknologi

penyiaran. Menurut ketentuan internasional, saluran AM berada pada blok frekuensi 300-3000 KHz. Pada sistem AM, sinyal informasi mengubah-ubah amplitude gelombang pembawa, namun frekuensinya tetap. Yang kedua yaitu Frekuensi Modulasi (FM), dimana saluran FM ditetapkan secara internasional berada pada blok frekuensi VHF (very high frequency), yaitu 30-300 MHz. Di Indonesia, rentang pita frekuensi yang dialokasikan untuk siaran FM berada diantara 87,5 – 108 MHz. Pada wilayah frekuensi ini secara relatif, bebas dari gangguan. Jangkauan dari sistem modulasi ini tidak sejauh, jika dibandingkan pada sistem modulasi AM dimana panjang gelombangnya lebih panjang.

Dilihat dari segi gelombang, radio memiliki bagian ke dalam long wave, short wave, dan medium wave. Sedangkan dari segi penyelenggara, siaran radio memiliki jenis penyelenggara pemerintah atau negara, swasta atau komersil, komunitas, dan radio asing.

Semua itu telah dijelaskan dalam pembahasan diatas dalam makalah ini.

KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

  1. A. Pendahuluan

Komunikasi antarbudaya adalah merupakan bagian dalam ilmu komunikasi. Ribuan tahun yang lalu, para tokoh dan filsuf menekankan  betapa pentingnya berbicara dengan bahasa orang lain melalui teknik-teknik berkomunikasi yang memperhatikan latar belakang audiens. Semua itu tidak lepas dari tujuan komunikasi dalam mencapai komunikasi yang efektif. Keefektifan itu akan berhasil jika mampu memilih dan menjalankan teknik-teknik berkomunikasi serta menggunakan bahasa yang sesuai dengan latar belakang orang tersebut. Komunikasi antarbudaya sebenarnya telah ada sejak dulu, berlangsung sepanjang kehidupan manusia.

Sebuah teori, termasuk teori komunikasi hanya dapat diterapkan dalam suatu lingkungan atau situasi tertentu. Asumsi sebuah teori komunikasi merupakan seperangkat pernyataan yang menggambarkan sebuah lingkungan yang valid, tempat dimana sebuah teori komunikasi dapat diterapkan atau diaplikasikan.

Maka dapat dikatakan, asumsi sebuah teori komunikasi antarbudaya merupakan seperangkat pernyataan yang menggambarkan sebuah lingkungan yang valid tempat dimana teori komunikasi antarbudaya itu dapat diterapkan. Untuk memahami kajian komunikasi antarbudaya, maka kita harus mengenal beberapa asumsi, yaitu:

–          Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepasi antara komunikator dengan komunikan.

–          Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi.

–          Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi.

–          Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian.

–          Komunikasi berpusat pada kebudayaan.

–          Efektifitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya.

Untuk lebih jelasnya mengenai enam hal di atas, kami akan menguraikannya secara lebih rinci dalam makalah ini.

  1. B. Pembahasan

Perbedaan konsep antara komunikator dengan komunikan

Komunikator dalam komunikasi antarbudaya adalah pihak yang mengawali komunikasi, dalam artian ia memulai pengiriman pesan tertentu kapada orang lain yang disebut komunikan.Komunikan sendiri berarti pihak yang menerima pesan tertentu sekaligus menjadi sasaran komunikasi dari komunikator.

Dalam komunikasi antarbudaya, komunikasi terjadi antara dua orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Penyampai pesan adalah anggota dari suatu budaya dan penerima pesannya juga merupakan anggota suatu budaya lainnya. Karena perbedaan iklim budaya tersebut lah yang menjadi sebuah titik perhatian adalah mengenai pesan-pesan yang menghubungkan individu atau kelompok yang berbeda budaya.

Perbedaan karakteristik antarbudaya antara lain ditentukan oleh latar belakang ras dan etnis, usia dan jenis kelamin, latar belakang sistem politik, kepercayaan, minat dan kebiasaan, status, kemampuan berbicara dan menulis, bentuk-bentuk dialek, dan sebagainya.

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang efektif, dimana pesan yang disampaikan penyampai (komunikator) dapat diperhatikan, diterima dan dipahami oleh penerima (komunikan) secara menyeluruh. Setiap proses komunikasi berupaya untuk mencapai keefektifan dalam berkomunikasi. Dalam komunikasi antarbudaya, perbedaan budaya secara alamiah dianggap suatu hal yang terkadang menjadi jurang pemisah antara komunikator dan komunikan.

Prinsip-prinsip yang terkandung dalam perbedaan tersebut umumnya mengimplikasikan bahwa hambatan komunikasi antarbudaya seringkali berupa perbedaan persepsi terhadap norma-norma budaya, pola-pola berpikir, struktur budaya, dan sistem budaya. (Alo Liliweri, Komunikasi Antarbudaya, 2007).

Pada intinya, komunikasi antarbudaya pun menginginkan terjadinya komunikasi yang baik dan efektif. Oleh karena itu, jika ingin menjadikan komunikasi antarbudaya berhasil, maka hendaklah setiap orang mengakui, menerima, dan memahami berbagai perbedaan budaya sebagaimana adanya, bukan sebaliknya memaksakan budaya tertentu yang kita kehendaki untuk diterima dan dipahami orang lain.

Komunikasi antarbudaya mengandung isi dan relasi antarpribadi

Proses komunikasi antarbudaya berakar dari relasi sosial antarbudaya yang menghendaki dan berkeinginan menwujudkan adanya interaksi sosial. Relasi antarmanusia yang berbeda budaya tersebut sangat mempengaruhi bagaimana isi dan makna dari sebuah pesan yang disampaikan diinterpretasi.

Watzlawick, Beavin, dan Jackson (1967) menekankan bahwa isi (content of communication) komunikasi tidak berada dalam sebuah ruang yang terisolasi. Isi (content) dan makna (meaning) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal yang juga esensial dalam membentuk relasi. (Alo Liliweri, Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya, 2007).

Perbedaan budaya yang dimiliki oleh dua orang atau dua kelompok yang memiliki hubungan relasi tertentu, akan memberikan pengaruh bagaimana pesan tersebut diinterprestasikan oleh lawan bicara. Seperti pada contoh berikut, seorang teman sebaya anda meminta tolong ambilkan sebuah buku di mejanya dengan berkata “apakah anda dapat mengambilkan buku di atas meja saya?”. Maka yang anda interpretasikan adalah sebuah pesan permintaan yang tidak begitu mendesak. Anda menganggap seorang teman yang sedang meminta bantuan anda. Berbeda dengan ketika kalimat tersebut dilontarkan oleh seorang dosen anda, maka anda akan menginterpretasikan sebuah pesan tersebut adalah sebuah perintah dan harus dilakukan dengan segera.

Hubungan relasi antara anda dengan teman anda dan anda dengan dosen anda menjadi sebuah alasan mengapa terdapat perbedaan dalam menginterpretasi pesan. Meskipun terdapat makna (meaning) atas isi pesan yang sama, yaitu “mengambil buku”, namun karena terdapat hubungan relasi tertentu yang berbeda, maka kalimat itu bisa diinterpretasikan juga secara berbeda, yaitu sebagai permintaan batuan atau sebuah perintah.

Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi

Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa komunikasi antarbudaya pada intinya bermakna proses komunikasi antarpribadi (komunikator dan komunikan) yang berbeda latar belakang budaya.

Secara normatif, komunikasi antarpribadi itu mengandalkan gaya berkomunikasi yang dihubungkan dengan nilai-nilai yang dianut orang. Nilai-nilai itu berbeda diantara kelompok etnik yang dapat menunjang atau mungkin merusak perhatian tatkala orang berkomunikasi. Di sini, gaya itu bisa berkaitan dengana individu maupun gaya dari sekelompok etnik. Begitulah pendapat Candia Elliot (1999) yang menjelaskan bagaimana pengaruh gaya personal.

Dalam komunikasi antarbudaya, gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi akan terlihat efektif atau tidak melalui pengaruh gaya personal komunikator atau komunikan dalam menyampaikan atau menerima pesan. Gaya komunikasi personal dapat ditunjukkan dengan cara kognitif maupun sosial. Banyak sekali tipe atau gaya personal yang dimiliki manusia dalam melakukan proses komunikasi. Diantaranya, terdapat orang yang senang bercakap dengan menampakkan wajah senang atau penuh dengan kehangatan, namun ada pula orang yang bercakap dengan wajah dingin dan kurang bersahabat, inilah yang biasanya kemudian lawan bicaranya memiliki perasaan kurang enak. Terkadang juga dapat berhadapan dengan orang yang bersikap otoriter, namun akan ditemui pula orang yang bersikap sangat demokratis. Ada orang yang menghargai lawan bicara dengan cara menatap mata, namun ada pula yang bersikap acuh dan menatap ke segala arah saat proses komunikasi berlangsung. Ada yang berkomunikasi dengan nada suara tinggi, namun ada pula yang bicara cukup dengan suara lembut.

Contoh lainnya, Gudykunst dan Kim (1992) memberi contoh sebagai berikut: perhatikan kunjungan seorang asing yang menganut budaya bahwa kontak mata selama berkomunikasi adalah tabu di Amerika Utara. Bila si orang asing berbicara kepada penduduk Amerika Utara dengan menghindari kontak mata, maka ia dianggap menyembunyikan sesuatu atau tidak berkata benar.

Banyak sekali gaya personal dalam berkomunikasi. Pengalaman sosial dalam berkomunikasi yang kita dapatkan, terutama dalam komunikasi antarbudaya yang menghadapi bermacam-macam lawan bicara dari berbagai latar belakang budaya membuat pengalaman kita semakin bertambah. Bahkan mungkin saja kita dapat berpendapat, mengavaluasi secara kognitif tentang gaya personal maupun gaya kelompok tertentu dalam berkomunikasi.

Tujuan komunikasi antarbudaya

Salah satu hal yang paling ditekankan adalah tujuan dari komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain. Mungkin saja pertemuan antardua orang menimbulkan permasalahan mengenai relasi dan muncullah beberapa pertanyaan seperti: bagaimana perasaan dia terhadap saya, bagaimana sikap dia terhadap saya, apa yang akan saya peroleh jika saya berkomunikasi dengan dia, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kebingungan yang dituangkan dalam pertanyaan tadi akan membuat orang merasa harus berkomunikasi, sehingga permasalahan relasi terjawab dan kita merasa diri berada dalam suasana relasi yang juga lebih pasti. Selanjutnya setelah berkomunikasi, seseorang akan mengambil sebuah keputusan untuk meneruskan atau menghentikan komunikasi tersebut. Dalam teori informasi, yang juga kajian komunikasi, tingkat ketidaktentuan atau ketidakpastian itu akan berkurang ketika orang mampu melakukan proses komunikasi secara tepat.

Biasanya, semakin besar derajat perbedaan antarbudaya, maka akan semakin besar pula kemungkinan kehilangan peluang untuk merumuskan suatu tingkat kepastian sebuah komunikasi yang efektif. Hal ini disebabkan karena ketika berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan yang berbeda, maka dipastikan akan memiliki perbedaan pula dalam sejumlah hal.

Gudykunstt dan Kim (1984) menunjukkan bahwa orang-orang yang kita tidak kenal selalu berusaha mengurangi tingkat ketidakpastian melalui peramalan yang tepat atas relasi antarpribadi. Usaha untuk mengurangi ketidakpastian itu dapat dilakukan melalui tiga tahap interaksi, yaitu:

1.)    Pra-kontak atau tahap pembentukan kesan melalui simbol verbal maupun non verbal. Dalam artian sebuah pertanyaan apakah komunikan suka berkomunikasi atau malah sebaliknya menghindari komunikasi,

2.)    Initial contact and impression, yakni sebuah tanggapan lanjutan atas kesan yang ditimbulkan atau muncul dari kontak pertama tersebut., seperti bertanya pada diri sendiri: apa saya seperti dia, apa dia mengerti saya, apa merugikan waktu saya jika berkomunikasi dengan dia, atau pertanyaan lainnya yang serupa,

3.)    Closure, mulai membuka diri yang semula tertutup, melalui atribusi dan pengembangan kepribadian. Teori atribusi sendiri menganjurkan agar kita lebih mengerti dan memahami perilaku orang lain dengan menyelidiki motivasi atas suatu perilaku atau tindakan dari dia (lawan bicara). Pertanyaan yang relevan adalah apa yang mendorong dia berkata, berpikir, atau bertindak demikian. Jika seseorang menampilkan tindakan yang positif, maka kita akan memberikan atribusi motivasi yang positif kepada orang tersebut, karena alasan dia bernilai bagi relasi kita. Sebaliknya, jika seorang itu menampilkan tindakan yang negatif, maka kita akan memberikan atribusi motivasi yang negatif pula. Sementara itu, kita juga dapat mengembangkan sebuah kesan terhadap orang itu melalui evaluasi atas kehadiran sebuah kepribadian implisit. Karena di saat awal komunikasi atau pada bagian pra-kontak, telah memberikan kesan bahwa orang itu baik, maka semua sifat positifnya akan mengikuti dia, misalnya karena dia baik maka beranggapan bahwa dia pun jujur, ramah, setia kawan, penolong, tidak sombong, dan lainnya.

(Alo Liliweri, Komunikasi Antarbudaya, 2007).

Komunikasi berpusat pada kebudayaan

Gatewood (1999) menjelaskan bahwa kebudayaan yang meliputi seluruh kemanusiaan itu sangatlah banyak. Hal tersebut meliputi seluruh periode waktu dan tempat. Dalam artian, jika komunikasi merupakan bentuk, metode, teknik, proses sosial dari kehidupan manusia yang terus membudaya , maka komunikasi juga merupakan sarana bagi transmisi kebudayaan. Oleh karenanya, kebudayaan itu sendiri merupakan sebuah komunikasi.

Kebudayaan sendiri adalah sesuatu yang dapat dipelajari, dapat ditukar, dan dapat berubah. Itu pun terjadi hanya jika ada interaksi antarmanusia dalam bentuk komunikasi antarpribadi maupun antarkelompok budaya (berbeda latar belakang budaya) secara terus-menerus. Kebudayaan diartikan sebagai sebuah kompleksitas total dari seluruh pikiran, perasaan, dan perbuatan manusia , maka untuk mendapatkannya dibutuhkan sebuah usaha yang selalu berurusan dengan orang lain.

Pada akhirnya muncul pertanyaan mengenai hubungan antara komunikasi dengan kebudayaan; apakah komunikasi ada dalam kebudayaan atau kebudayaan merupakan bagian komunikasi?. Smith (1976) menjawabnya dengan kalimat “komunikasi dan budaya tidak dapat dipisahkan”. Dan tokoh lainnya, Edward T. Hall mengatakan bahwa komunikasi adalah kebudayaan dan kebudayaan adalah komunikasi.

Dua hal yang setidaknya memberi jawaban; pertama, dalam kebudayaan ada sistem dan dinamika yang mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi, dan kedua, hanya dengan komunikasi maka pertukaran simbol-simbol dapat dilakukan dan kebudayaan akan tetap eksis jika ada komunikasi.

Pada hakikatnya, proses komunikasi antarbudaya berproses sama seperti komunikasi lainnya, yaitu secara interaktif dan transaksional serta dinamis.

Komunikasi antarbudaya yang interaktif adalah komunikasi yang dilakukan olh komunikator dengan komunikan dalam dua arah atau two way communication, namun masih berada pada tahap rendah ( Wahlstrom, 1992). Jika proses komunikasi atau pertukaran pesan  tersebut telah sampai pada bentuk saling mengerti, memahami perasaan dan tindakan bersama maka komunikasi itu telah memasuki tahap lebih tinggi dengan kata lain telah ada pada tahap transaksional (Hybels dan Sandra, 1992).

Tiga unsure penting yang meliputi komunikasi transaksional adalah; pertama, keterlibatan emosional yang tinggi, berlangsung secara terus menerus dan berkesinambungan atas pertukaran pesan, kedua, peristiwa komunikasi tersebut meliputi seri waktu, yaitu berkaitan dengan masa lalu, kini, dan yang akan datang, dan yang terakhir adalah partisipan dalam komunikasi antarbudaya yang sedang berlangsung menjalankan peran tertentu.

Komunikasi interaktif maupun transaksional keduanya berproses yang bersifat dinamis. Alasannya, karena proses tersebut berlangsung dalam konteks sosial yang hidup, berkembang dan bahkan berubah berdasarkan waktu, situasi, dan kondisi tertentu.  Karena proses komunikasi yang dilakukan merupakan merupakan komunikasi antarbudaya maka kebudayaan merupakan dinamisator atau dengan kata lain sebagai penghidup bagi proses komunikasi yang sedang berlangsung.

Efektifitas komunikasi antarbudaya

Kenyataan dan kehidupan sosial telah membuktikan bahwa manusia di muka bumi tidak dapat hidup sendiri. Mereka pasti melakukan interaksi sosial dan selalu berhubungan satu sama lain. Dan interaksi itu tidak akan terjadi tanpa adanya proses komunikasi. Itu artinya, dalam komunikasi antarbudaya, interaksi antarbudaya pun tidak akan pernah ada jika tidak ada komunikasi antarbudaya. Segala kefektivan dalam interaksi antarbudaya tergantung pada komunikasi antarbudaya. Gudykunst menyakini bahwa kecemasan dan ketidakpastian adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antarbudaya.

Konsep diatas sekaligus menekankan bahwa segala tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai dan dikatakan berhasil jika bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya dari peserta komunikasi untuk memperbaharui relasi antar komunikator dan komunikan, menciptakan dan memperbaharui sebuah manajemen komunikasi yang efektif, lahirnya sikap dan semangat kesetiakawanan, persahabatan, pertemanan, kekerabata, hingga kepada pengurangan konflik antar keduanya.

Dengan pemahaman mengenai komunikasi antar budaya dan bagaimana komunikasi dapat dilakukan, maka kita dapat melihat bagaimana komunikasi dapat mewujudkan perdamaian dan meredam konflik di tengah-tengah masyarakat. Dengan komunikasi yang intens kita dapat memahami akar permasalahan sebuah konflik, membatasi dan mengurangi kesalahpahaman, komunikasi dapat mengurangi konflik sosial. Menurut Charles E Snare bahwa usaha meredam konflik dan mendorong terciptanya perdamaian tergantung bagaimana cara kita mendefinisikan situasi orang lain agar kita dapat mencapai perdamaian dan kerjasama.

Untuk mencapai komunikasi antar budaya yang efektif, individu seharusnya mengembangkan kompetensi antar budaya; merujuk pada keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai komunikasi antar budaya yang efektif Jandt (1998, 2004) mengidentifikasikan empat keterampilan sebagai bagian dari kompetensi antar budaya, yaitu personality strength, communication skills, psychological adjustment and cultural awareness. Tidak dapat diragukan bahwa kompetensi antar budaya adalah sebuah hal yang sangat penting saat ini. Seperti halnya pendatang sementara yang disebut sojourners, yaitu sekelompok orang asing (stranger) yang tinggal dalam sebuah negara yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dengan negara tempat mereka berasal.

  1. C. Kesimpulan

Komunikasi antarbudaya merupakan pertukaran pesan antara komunikator dengan komunikan yang berasal dari latar belakang budaya berbeda.

Komunikator dalam komunikasi antarbudaya adalah pihak yang mengawali komunikasi, dalam artian ia memulai pengiriman pesan tertentu kapada orang lain yang disebut komunikan.Komunikan sendiri berarti pihak yang menerima pesan tertentu sekaligus menjadi sasaran komunikasi dari komunikator.

Perbedaan karakteristik antarbudaya antara lain ditentukan oleh latar belakang ras dan etnis, usia dan jenis kelamin, latar belakang sistem politik, kepercayaan, minat dan kebiasaan, status, kemampuan berbicara dan menulis, bentuk-bentuk dialek, dan sebagainya.

Dalam komunikasi antarbudaya, setiap proses komunikasinya mengandung isi dan relasi antar pribadi. Relasi antar pribadi atau kelompok sangat mempengaruhi bagaimana nantinya pesan itu diinterpretasi. Meski terdapat isi dan makna yang sama, namun relasi menjadi pengaruh terhadap penginterpretasian pesan yang disampaikan kepada lawan bicara.

Watzlawick, Beavin, dan Jackson (1967) menekankan bahwa isi (content of communication) komunikasi tidak berada dalam sebuah ruang yang terisolasi. Isi (content) dan makna (meaning) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal yang juga esensial dalam membentuk relasi.

Perbedaan budaya yang dimiliki oleh dua orang atau dua kelompok yang memiliki hubungan relasi tertentu, akan memberikan pengaruh bagaimana pesan tersebut diinterprestasikan oleh lawan bicara.

Ternyata, dalam komunikasi yang berlangsung antarbudaya juga mengenal gaya personal dalam berkomunikasi. Gaya personal yang dimiliki masing-masing orang memberikan pengaruh terhadap proses komunikasi tersebut. Komunikasi antarpribadi akan terlihat efektif atau tidak melalui pengaruh gaya personal komunikator atau komunikan dalam menyampaikan atau menerima pesan. Bagaimana nantinya komunikasi tersebut berlangsung harmonis atau malah sebaliknya.

Secara normatif, komunikasi antarpribadi itu mengandalkan gaya berkomunikasi yang dihubungkan dengan nilai-nilai yang dianut orang. Nilai-nilai itu berbeda diantara kelompok etnik yang dapat menunjang atau mungkin merusak perhatian tatkala orang berkomunikasi. Di sini, gaya itu bisa berkaitan dengan individu maupun gaya dari sekelompok etnik.

Salah satu tujuan komunikasi antarbudaya yang kami bahas adalah mengurangi tingkat ketidakpastian, ketidaktentuan, ataupun kebingungan. Permasalahan relasi biasanya akan lebih pasti ketika seseorang telah melakukan proses komunikasi.

Setelah berkomunikasi, seseorang akan mengambil sebuah keputusan untuk meneruskan atau menghentikan komunikasi tersebut. Dalam teori informasi, yang juga kajian komunikasi, tingkat ketidaktentuan atau ketidakpastian itu akan berkurang ketika orang mampu melakukan proses komunikasi secara tepat.

Pada dasarnya, setiap proses komunikasi berpusat pada kebudayaan. Bahkan ada jawaban yang menyatakan bahwa komunikasi adalah kebudayaan dan kebudayaan adalah komunikasi. Jelas, keduanya tidak dapat dipisahkan.

Gatewood (1999) menjelaskan jika komunikasi merupakan bentuk, metode, teknik, proses sosial dari kehidupan manusia yang terus membudaya , maka komunikasi juga merupakan sarana bagi transmisi kebudayaan. Oleh karenanya, kebudayaan itu sendiri merupakan sebuah komunikasi.

Terakhir yang akan kami simpulkan, bahwa komunikasi antarbudaya pun memiliki berbagai tujuan yang menjadikan komunikasi tersebut efektif dan dikatakan berhasil.

Kenyataan dan kehidupan sosial telah membuktikan bahwa manusia di muka bumi tidak dapat hidup sendiri. Mereka pasti melakukan interaksi sosial dan selalu berhubungan satu sama lain. Dan interaksi itu tidak akan terjadi tanpa adanya proses komunikasi. Itu artinya, dalam komunikasi antarbudaya, interaksi antarbudaya pun tidak akan pernah ada jika tidak ada komunikasi antarbudaya. Segala kefektivan dalam interaksi antarbudaya tergantung pada komunikasi antarbudaya.

Konsep diatas sekaligus menekankan bahwa segala tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai dan dikatakan berhasil jika bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya dari peserta komunikasi untuk memperbaharui relasi antar komunikator dan komunikan, menciptakan dan memperbaharui sebuah manajemen komunikasi yang efektif, lahirnya sikap dan semangat kesetiakawanan, persahabatan, pertemanan, kekerabata, hingga kepada pengurangan konflik antar keduanya.

KEMAJUAN ELEKTRONIK UNTUK KEBUTUHAN KOMUNIKASI (RADIO)

  1. A. Pendahuluan

Di zaman yang semakin canggih, dimana pemanfaatan teknologi dan informasi menjadi sebuah keharusan dan kebutuhan, manusia dituntut untuk mampu beradaptasi dengan segala perubahannya. Dalam kehidupan, manusia tidak lepas dari proses komunikasi, yaitu sebuah proses saling bertukar informasi atau berita yang berjalan lancar dan terus menerus.

Komunikasi berasal dari bahasa Latin : Communis = sama (common) yang berarti kita mengupayakan suatu kesamaan (commoness) persepsi dengan orang lain. Dalam berkomunikasi, telah banyak manusia yang menggunakan teknologi komunikasi. Yaitu  perangkat dan sistem hasil rekayasa manusia yang digunakan sebagai media transmisi atau medium untuk menyampaikan pesan, opini atau gagasan kepada orang lain atau khalayak. Beberapa contoh yang bisa dikatakan sebagai teknologi komunikasi adalah radio, televisi, telepon, fax, komputer, internet.

Dalam makalah ini, akan dibahas lebih rinci mengenai kemajuan elektronik untuk kebutuhan komunikasi, khususnya pada media radio. Bagaimana radio menjadi salah satu bentuk teknologi komunikasi yang setiap perkembangannya memberikan pengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan komunikasi manusia.

  1. B. Pembahasan
  2. a. Definisi Radio

Pengertian “Radio” menurut ensiklopedi Indonesia yaitu penyampaian informasi dengan pemanfaatan gelombang elektromagnetik bebas yang memiliki frequensi kurang dari 300 GHz (panjang gelombang lebih besar dari 1 mm). Menurut Versi Undang-undang Penyiaran no 32/2002 : kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran, yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan.

Radio adalah alat pengubah sinyal, dengan perangkat yang terdiri dari gelombang elektromagnetik dengan frekuensi dibawah kecepatan cahaya. Radiasi elektromagnetik ini dapat mengalir di udara bebas maupun dalam ruang hampa udara. Radio mempunyai perangkat yang dapat mengubah gelombang tadi menjadi suara maupun sinyal – sinyal lain yang membawa informasi.

Radio merupakan salah satu media komunikasi dan informasi yang masih tetap ada dan bertahan di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat. Keberadaan radio yang sudah bertahun – tahun juga berkembang seiring perkembangan zaman.

  1. b. Sejarah radio

Asal mula adanya sebuah radio didasari noleh sebuah penemuan di bidang fisika. Michael Faraday, seorang ahli fisika Inggris telah mendapatkan temuan di bidang ilmu kelistrikan, antara lain induksi elektomagnet dan formulasi rumus-rumus fisika mengenai induksi listrik dan magnet.

Pada tahun 1873, James Clark Maxwell, seorang ahli Astronomi fisika Skotlandia mempunyai penemuan ilmiah tentang adanya gelombang elektromagnetik yang merambat pada percepatan cahaya. Pada 1878 David E. Hughes adalah orang pertama yang mengirimkan dan menerima gelombang radio ketika dia menemukan bahwa keseimbangan induksinya menyebabkan gangguan ke telepon buatannya. Dia mendemonstrasikan penemuannya kepada Royal Society pada 1880 tapi hal itu dikatakan hanya merupakan induksi.

Antara 1886 dan 1888, Heinrich Rudolf Hertz, seorang ahli fisika Jerman pertama kali membuktikan teori Maxwell melalui eksperimen. Ia memperagakan bahwa radiasi radio memiliki seluruh properti gelombang (sekarang disebut gelombang Hertzian). Ia juga membuat gelombang radio dan berhasil memancarkan sampai jarak 200 meter. Dengan peralatan laboratorium yang sederhana, Hertz telah berhasil memformulasikan rumus penghitungan panjang gelombang dan menemukan bahwa persamaan elektromagnetik dapat diformulasikan ke persamaan turunan partial disebut persamaan gelombang.

Di dalam rumusnya Ia membuktikan bahwa gelombang radio tersebut dapat dipantulkan, direfraksi, dan dipolarisasikan seperti halnya dengan sinar cahaya. Dalam percobaannya, Hertz membuat suatu spark-gap transmitter, antena pengarah dan suatu rangkaian resonator untuk menangkap kembali gelombang radio yang dipancarkan tersebut. Penemuan fisika dasar ini pada gilirannya akan menjadi titik tolak pengembangan praktis di lapangan yang berupa radio komunikasi untuk tujuan penggunaannya dalam  meningkatkan kesejahteraan hidup manusia.

Pada awal tahun 1890-an seorang Itali bernama Gugielmo Marconi mempelajari ilmu-ilmu dasar temuan para ilmuan tersebut dan berusaha mengembangkan dan menerapkannya sehingga dapat berguna secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dengan menciptakan inovasi-inovasi atas dasar peralatan yang diciptakan oleh Hertz, Marconi telah berhasil meningkatkan jarak pancaran gelombang elektromagnetik dan mengisinya dengan informasi. Sehingga peralatan transmitter dan receiver ciptaan Marconi tersebut mampu menransfer informasi dari satu tempat ke tempat lain tanpa kawat, inilah awal dari komunikasi radio.

Selama ini Guglielmo Marconi dianggap sebagai penemu radio. Padahal sebenarnya banyak orang berperan dalam pengembangannya. Meski uji coba siaran radio pertama kali dilakukan tahun 1910, siaran radio sebenarnya di banyak negara baru dimulai pada tahun 1920.

Sejarah radio mengalami revolusi yang sangat panjang sehingga melibatkan banyak ilmuwan dalam proses penyempurnaan radio hingga saat ini. Berawal pada tahun 1893, Nikola Tesla mendemonstrasikan prinsip dasar cara kerja ‘wireless’ kemudian Temistocle Calzecchi-Onesti mengembangkan cara kerja tersebut dengan penerima gelombang magnetic dalam bentuk alat berupa tabung yang berisi elemen – elemen besi.

Tahap demi tahap eksperimen penyempurnaan penerjemah gelombang telah dilakukan hingga pada akhirnya Guglielmo Marconi dianugrahi penghargaaan hak cipta oleh negara inggris pada tahun 1896 dalam hal pengembangan teknologi signal transmitter.

Pada tahun 1897, dibukalah stasiun radio pertama di dunia yang bertempat di isle, Inggris. Awalnya jangkauan radio sangatlah terbatas, hanya 500 miles, namun pada tahun 1901 Marconi berhasil menyempurnakan kekuatan jangkauan gelombang radio hingga mencapai jarak 2000 miles, untuk itu ia pun mendapatkan banyak penghargaan atas penemuannya yang sangat membantu perkembangan komunikasi dunia.

  1. Perkembangan radio

Sebelum adanya bahasa tulisan, orang-orang bernyanyi untuk menceritakan dan berbagi sesuatu. Setelah teknologi cetak mulai berkembang, nyanyian dan cerita itu mulai ditulis dengan notasi dan lambang-lambang maupun symbol. Pada akhirnya, Thomas Edison memperkenalkan the speaking phonograph pada tahun 1877. Dapat dikatakan bahwa inilah cikal bakal dimana Marconi pada tahun 1896 menciptakan radio transmitter dan mulai untuk membisniskan radio. Penemuan teknologi terbaru menjadikan radio mempunyai banyak kegunaan. Di tahun 1906, Lee De Forest menemukan “vacuum tube” yang berguna untuk transmisi radio dan menerima suara dan musik.

Karya cipta merconi ditransformasikan oleh Reginald Audbrey Fessenden dengan radio wireless (tanpa kabel). “Fessenden’s experiment in 1906 is considered the world’s first voice and music broarcast”. Tokoh lain adalah Lee Dee Forrest, dia menyebut dirinya sebagai bapak radio karena pada tahun 1907 ia menemukan alat audio untuk mendeteksi radio wireless. Selain itu ia menjadi seorang penemu. Ia yang pertama kali memperkenalkan Broadcast (siaran radio) . Pada tahun 1910 ia menyiarkan lagi Enrico Caruso di Metropolitan Opera Hause. Dan itulah yang menjadi pondasi dari penyiaran radio modern.

Tahun 1912 David Sarnoff menyiarkan berita dari Nantucket Island, Massacussets bahwa ia telah menerima panggilan darurat dari kapal titanic. Empat tahun kemudian ketika ia bekerja di Marconi Company di New York, dia menulis catatan kecil tentang prediksi radio masa depan meskipun pada tahun 1916 prediksinya selalu ditolak. Isi dari catatan kecil tersebut adalah perubahan bentuk radio menjadi “radio music box”. Tapi akhirnya, ia menjabat menjadi menejer pemasaran dari RCA, Sarnoff dapat melihat bahwa prediksi itu menjadi nyata.

Awalnya perusahaan radio tidak memberikan royalty kepada Composers, Authors, and Publishers (ASCAP) jika lagu mereka disiarkan. Karena perusahaan fakir, ASCAP sudah mendapatkan ketenarannya. Pada tahun 1923 ASCAP menuntut royalty dari pihak radio jika lagu mereka disiarkan. Mereka harus membayar 250 dolar selama satu tahun. Radio tidak akan hidup jika musik tak ada, maka pemilik stasiun radio itupun menyetujui untuk membayar radio tersebut.

Dari pengaruh tuntutan ASCAP stasiun radio membutuhkan cara untuk mendapatkan sponsor guna membayar royalty ASCAP . Tahun 1922 adalah tahun pertama kali iklan masuk dalam radio untuk mempromosikan produk – produk. Pengguna jasa iklan pertama kali adalah Queensboro Coorp untuk mempromosikan penjualan apartemennya pada pukul lima sore, 28 Agustus 1922 dengan biaya 100 dolar  untuk sepuluh menit.

1877, Thomas Edison memperkenalkan phonograph, yang kegunaan utamanya saat itu adalah  menjadi alat hiburan musik.

1882, Emile Berliner menciotakan gramophone, yang menggunakan piring hitam yang dikenal sebagai 78 rpm “records”.

1896, Guglielmo Marconi mengembangkan pemancar radio, dan mulai masuk ke dalam bisnis radio.

1906, De Forest menciptakan vacuum tube, yaitu alat yang berfungsi memperbesar sinyal dengan mengontrol aliran dari arus listrik yang terdapat dalam sebuah tabung gelas.

1920, Frank Conrad memulai KDKA di Pittsburgh.

1926, RCA memulai NBC Radio Networks; dan semakin memungkinkan para pemasang iklan untuk memiliki akses langsung ke perumahan. Hal ini membuat kesempatan lebih besar bagi iklan untuk tersebar di targetnya, dalam privasi rumah mereka sendiri.

1927, Federal Radio Commission dibentuk.

1930 dan 1940-an, radio menjadi kekuatan politik dan budaya.

1934, Federal Communications Commision mulai terbentuk.

1949, era DJ pada radio dimulai.

1970, stasiun FM meningkat, menjadi stereo, dan memiliki semakin banyak segmentasi bagi para pendengar yang bermacam-macam.

1982, format rekaman dalam bentuk CD mulai diperkenalkan.

2002, radio di internet setuju untuk membayar proporsi dari keuntungan, baik kepada musisi maupun labelnya, atas penggunaan hak milik music.

  1. Kemajuan Elektronik Radio Untuk Kebutuhan Komunikasi

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa manusia tidak akan lepas dari proses komunikasi. Dimana terjadi pertukaran informasi yang dilakukan secara terus menerus agar kehidupan menjadi seimbang. Pada dasarnya, komunikasi manusia membutuhkan media sebagai penghubung dalam menyampaikan pesan. Di era teknologi saat ini, manusia mulai menggunakan produk teknologi sebagai penyampai maupun perantara pesan, diantaranya radio. Melalui radio, manusia mampu menerima maupun menyampaikan pesan, baik berupa berita sebagai informasi, lagu sebagai hiburan, maupun dalam bentuk lainnya.

Dalam telekomunikasi, komunikasi radio dua-arah melewati Atlantik pertama terjadi pada 25 Juli 1920. Tidak begitu saja manusia dengan mudah menggunakan media radio sebagai media penyampai maupun penerima komunikasi. Berbagai penemuan dan percobaan dilakukan para tokoh sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, yang pada akhirnya berhasil dilakukan komunikasi radio pertama kalinya.

Dalam buku media impact karya Shirley Biagi menyatakan bahwa:

  • 58 percent of america’s bedrooms have radios and and 78 percent o all homes have battery-operated radios.
  • 44 percent of American listen  to the radio sometimes between midnight and 6 A.M
  • 7 percent of america’s bathrooms have radios.
  • 95 percent of America’s cars have radios.

Hal ini membuktikan bahwa, posisi radio tak kalah penting di masyarakat. Masyarakat masih menerima dan membutuhkan berbagai informasi dari radio.

Pada awal adanya komunikasi radio, radio digunakan sebagai penyebar informasi. Pada masa peperangan pun radio juga digunakan sebagai alat penyampai informasi dalam bentuk propaganda-propaganda. Zaman yang terus berubah dan perkembangan teknologi semakin meningkat mempengaruhi akan kemajuan radio sebagai alat komunikasi. Masyarakat bukan hanya membutuhkan informasi, tapi juga hiburan dalam bentuk musik, humor atau apapun. Hal itulah yang kemudian melatarbelakangi perubahan maupun perkembangan bentuk ataupun jenis radio. Radio tidak lagi berbentuk kotak besar berat yang sulit dibawa. Perkembangan radio yang didasari kebutuhan masyarakat kini terdapat dalam bentuk telepon seluler, MP3, MP4, IPod, atau yang lainya, bahkan dalam bentuk web radio pun sudah semakin marak.

Berawal dari kemajuan alat perekam yang pada akhirnya dikolaborasikan dengan teknologi radio, saat ini sudah banyak bentuk canggih radio yang juga memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berkomunikasi.

Alat perekam suara pertama yaitu Phonoautograph penemuan Leon Scott telah ada sebelum Phonograph penemuan Thomas Alpha Edison yang digunakan untuk mempelajari gelombang suara pada tahun 1857. Namun alat tersebut tidak digunakan untuk mereproduksi hasil rekaman tersebut. Phonograph diciptakan seiring dengan pengembangan perangkat telepon pada tahun 1870-an dan pada saat itulah Edison mendapat ide untuk mencetak pesan telepon di atas kertas berlapis wax manggunakan alat elektromagnetik. Setelah penemuan tersebut, bermunculan alat perekam lain seperti Graphophone dan perusahaan lain yang membuatnya. Para ilmuwan meyakini bahwa alat tersebut dibuat pada 9 April 1860 oleh ilmuwan Perancis, Edouard-Leon Scott de Martinville.

Edouard-Leon Scott de Martinville merekam suara menggunakan alat bernama phonautograph yang memindahkan gelombang suara ke dalam selembar kertas yang dihitamkan dengan asap lampu minyak. Untuk memutar rekaman itu sendiri, para ahli membuat alat pemindai digital beresolusi sangat tinggi. Dengan pemindai digital itu para ahli dapat membaca gelombang suara yang dihasilkan Edouard-Leon Scott de Martinville tersebut. Hasilnya, terdengarlah rekaman seseorang bernyanyi: ‘Au clair de la lune, Pierrot repondit‘. Edouard-Leon Scott de Martinville sendiri tidak bisa memutar ulang rekaman yang ia buat tersebut, baru pada tahun 1888 Thomas Alpha Edison dapat membuat alat yang dapat merekam sekaligus dapat memutar kembali suara yang direkam.

Pada tahun 1894, Emir Berliner mencetuskan ide untuk mencetak suara di atas piringan dan bukan silinder dengan alas an lebih mudah direproduksi. Ide piringan inilah yang berkembang menjadi disc yang kita kenal sekarang ini.

Phonograph, graphophone dan alat perekam lainnya adalah alat mekanik sampai tahun 1920 dikembangkan player dengan built in speaker yang mengizinkan pemutaran hasil rekaman dapat lebih keras suaranya. Hingga akhir perang dunia II, phonograph atau dikenal juga dengan gramaphone adalah satu-satunya alat perekam dan playback yang umum digunakan, tetapi zaman sudah mulai berubah. Hollywood mulai mengambil peranan dalam perkembangan rekaman dengan menggunakan suara di film.

Tape Recording

Pada akhirnya, pengembangan tape recording yang menggantikan phonograph, karena lebih mudah dan biayanya yang lebih terjangkau. Tape mulai populer tahun 1950-an. Perkembangan tape recorder ini membawa perubahan yang pesat dalam membuat musik. Karena dengan tape, proses edit menjadi lebih mudah, pemberian efek fade in dan fade out bisa dilakukan. Jika sebelumnya seorang artis harus membawakan lagu dengan sempurna saat direkam, dengan adanya tape recording, proses penambalan dan edit yang lebih mudah, berbagai kesalahan dapat diperbaiki dengan mudah.

Multitrack Recording

Pada tahun 1940-an mulainya eksperimen dengan menggunakan multitrack recording yang terus berkembang menjadi lebih rumit hingga tahun 1960-an. Dengan adanya multitrack recording, teknik merekam dengan memisahkan grup artis dapat dilakukan. Efek lain yang ditimbulkan oleh multitrack recording ini adalah munculnya suara stereo. Para insiyur suara pada tahun 1930-an mulai bereksperimen dengan merekam menggunakan 2 microphone, 2 amplifier, dan 2 speaker yang menyebabkan efek aural yang menyenangkan. Pada tahun 1960-an, 8 track player yang biasa diasosiasikan dengan player untuk mobil menjadi sangat popler namun segera mati dan digantikan oleh kaset.

Tahun 1963 Philips mengenalkan Compact audio cassette atau yang lebih kita kenal sebagai kaset sebagi media penimpan audio baru. Perusahaan yang berbasis di Eindoven Belanda ini baru menjual massal penemuan mereka ini pada tahun 1965, kemudian pada tahun 1971, Advent Corporation memperkenalkan Model 201 tape deck yang merupakan ibu dari tape yang selama ini kita kenal. Dalam perkembangan berikutnya pada awal dekade 1980-an lahirlah Walkman yang dibuat oleh perusahaan elektronik dari Jepang yaitu Sony. Perusahaan ini membuat alat pemutar kaset portable yang ukurannya tak lebih dari ukuran kotak makan.

Digital Recording

Mulai tahun 1980-an teknologi digital recording mulai berkembang. Tahun 1984 Sony memperkenalkan Compact Disk CD yang berbentuk seperti cakram kecil dengan lubang ditengahnya. Ide dari pembuatan CD ini adalah merampingkan bentuk media penyimpan musik populer selama ini yaitu kaset yang dirasa terlalu besar. Disamping itu pengenalan CD ini juga bertujuan untuk membuat kualitas audio yang dihasilkan menjadi lebih baik selain kepraktisan dalam penyimpanan.

Lahirnya CD kemudian diikuti oleh lahirnya VCD dan DVD yang dapat menyimpan bentuk visual bergerak selain dapat menyimpan bentuk audio. Lahirnya CD dan perkembangannya tidak dapat dipungkiri merupakan awal dari revolusi musik digital karena data-data yang disimpan dalam CD adalah data-data audio dalam format digital. Dan pada tahun 1990-an, budaya rekaman sudah mencapai era yang sangat berubah dari budaya awal. Dengan segala kemudahan menggunakan peralatan multimedia, dengan semuanya sudah berupa file digital, hobbyist dan pemakai komputer biasa sudah bisa merekam dan mengedit materi digital dan me-mixingnya. Musical Instrument Digital Interface (MIDI) juga mengubah bagaimana musik dibuat. Format Audio Digital sendiri banyak sekali macamnya, seperti WAV, AAC, WMA, Ogg Vorbis, Real Audio, MIDI dan tentu saja yang paling populer adalah MP3.

MP3 yang secara teknis disebut MPEG 1 Audio Layer3 lahir dari kerjasama antara tim dari Fraunhofer Institute Jerman dan Digital Audio Broadcasting (DBA). Proyek mereka ini diberi nama EUREKA EU147. Kerjasama yang dimulai pada tahun 1985 ini ide besarnya adalah membuat format audio yang serealistik mungkin dengan ukuran file yang sekecil mungkin. Tim yang diketuai oleh Profesor Dieter Seitzer dan Profesor Heinz Gerhauser akhirnya menemukan algoritma yang dapat menangkap berkas suara yang tidak tertangkap telinga. Berkas suara ini sendiri dapat dimampatkan sebesar 1/10 dari ukuran semula. Algoritma yang bernama ISO-MPEG Audio Layer-3 (IS 11172-3 dan IS13818-3) ini kemudian distandarisasi secara global dengan Moving Picture Experts Group (MPEG) agar dapat diterima secara internasional.

Ditahun 1995 tim dari Fraunhofer Institute Jerman membuat Wimplay yang merupakan pemutar musik versi Windows yang bisa memecah algoritma MP3 sehingga dapat dinikmati secara realtime. Wimplay inilah yang menjadi cikal bakal Media player yang terdapat di Personal Computer.Dalam perkembangannya berikutnya lahirlah iPOD yang merupakan pemutar MP3 portable yang digagas oleh Steve Jobs yang merupakan CEO Apple inc.

Perkembangan teknologi dari masa ke masa tidak dapat dipungkiri memberi dampak bagai pedang bermata dua. Di satu sisi perkembangan teknologi pemutar musik kesempatan bagi tersebarnya produk-produk musik secara luas kepada penikmatnya. Disisi lain pembajakan musik menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan industri musik sendiri, dalam hal ini dapat dikatakan industri teknologi informasi bisa menjadi madu sekaligus racun bagi industri musik.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!